BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM

Hope for the best and prepare for the worst cause Allah will compensate us for all that we do

Analisis Tema Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

diposting oleh w-afif-mufida-fk12 pada 14 December 2012
di 1 Ilmu Sosial Budaya Dasar - 0 komentar

Tema adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan tertentu yang membentuk atau membangun dasar gagasan-gagasan utama dari suatu karya sastra (Tarigan , 1985:125). Seperti yang telah disinggung dalam pendahuluan diatas, banyak orang yang menganggap tema dari cerita Umar Kayam adalah bertemakan nonsense. Dengan didasari tidak adanya penceritaan yang jelas dan konflik yang tidak ada sama sekali. Namun kali ini penulis dapat menangkap bahwa tema yang hendak disampaikan oleh Kayam yang paling banyak adalah tema sosiologis. Artinya Kayam ingin menceritakan adanya persamaan dan perbedaan kebiasaan antara budaya barat dan budaya timur. Dalam artian lain tema multicultural. Namun Kayam tidak mengakhiri tema ini dengan jelas, atau sekurang-kurangnya dengan konflik yang jelas. Pembaca diarahkan untuk menilai, dan membawa cerita ini menuju kehendak pembaca. Sehingga cerita ini mnejadi multitafsir.
Persamaan kedua budaya ini dapat diceritakan dalam kisah Jane yang masih menyayangi mantan suaminya dan Marno yang rindu akan kampung halaman dan istrinya. Ini membuktian bahwa budaya barat dan timur mempunyai kesamaan dalam hal kasih sayang, keduanya merasakan hal yang sama maupun dalam kondisi budaya dan keadaan social yang berbeda. Perbedaan ditunjukkan Kayam dalam situasi dimana Marno lebih memilih untuk pulang daripad tidur bersama dengan Jane. Mungkin karena ia ingin segera mengakhiri perselingkuhan itu dan kembali kepada istrinya. Hal ini menunjukkan identitas budaya timur yang lebih menghargai perkawinan.
Dalam cerpen-cerpennya Kayam lebih banyak menggambarkan unsur-unsur budaya. Terutama budaya barat yang Kayam sendiri mengalaminya saat menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan budaya timur yang merupakan budaya aslinya. Ini juga bersinggungan langsung dengan latar belakang Kayam yang merupakan seorang budayawan. Dalam cerpennya yang lain Istriku, Madam Schlitz dan Sang Raksasa Kayam menampilkan sisi kehidupan bertetangga di Amerika. Dan sekali lagi Kayam tidak menampilkan konflik yang jelas di cerpen tersebut.

Jika menganggap bahwa cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan adlaah nonsense, maka penulis mengaitkan kembali pada gaya kepenulisan Kayam yang telah diutarakan tadi. Dengan gaya yang lebih mengarahkan pembaca untuk mengetahui dan berimajinasi langsung tanpa pendeskripsian yang jelas mengenai kejadian-kejadian antar tokoh. Sehingga cerpen Kayam tidak bisa di baca secara sekali agar pembaca langsung dapat memaknai cerita tersebut, melainkan harus dibaca berulang-ulang agar dapat menangkap apa maksud Kayam mengenai pesan yang ingin disampaikannya. Sehingga dapat ditemukan tema, makna dan nilai dari cerita Kayam.

 

source : http://antono-wiyono.blogspot.com/2011/05/gaya-bercakap-dan-cerpen-suasana-umar.html

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :